Halal Brand Forum 2026

Home » Dari Standar ke Strategi: Membaca Bisnis Halal Brand Forum 2026
16 April 2026 – Hotel Sofyan Cut Meutia, Cikini, Jakarta Pusat

IHATEC Marketing Research menyelenggarakan Acara Halal Brand Forum 2026 pada 16 April 2026 dengan mengusung tema “Building a Value-Driven Halal Brand for Muslim Generation”. Kegiatan ini berlokasi di Hotel Sofyan Cut Meutia, Jakarta Pusat, dan menghadirkan silaturahmi, seminar, serta diskusi.

Lebih dari sekadar pertemuan, forum ini menjadi ruang eksklusif yang mempertemukan para pemimpin perusahaan, khususnya peraih Top Halal Award, untuk terhubung, bertukar perspektif, dan membaca arah pengembangan halal brand ke depan. Di tengah dinamika konsumen Muslim yang semakin sadar nilai, forum ini mendorong brand untuk tetap relevan, adaptif, dan kompetitif melalui wawasan, jejaring, serta kolaborasi yang kuat.

Evrin Lutfika selaku Direktur IHATEC Marketing Research mengawali acara dengan sambutan. Dalam awal sambutannya, beliau menuturkan bahwa bagi IHATEC Marketing Research, Top Halal Award bukanlah garis akhir. Justru, ia adalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Top Halal Award telah terselenggara sejak tahun 2022, dan hingga hari ini telah menjangkau lebih dari 100 kategori produk dengan melibatkan puluhan merek di tiap kategori. Angka ini menunjukkan satu hal penting: semakin banyak pihak yang peduli, terlibat, dan ingin serius membangun halal brand secara berkelanjutan.

“Melalui Halal Brand Forum ini, kami ingin melihat semangat tersebut meluas, bukan hanya berhenti pada pencapaian penghargaan. Tetapi merealisasikan menjadi praktik nyata di seluruh lini ekosistem halal, dalam keseharian bisnis, pengambilan keputusan, dan interaksi dengan konsumen.”

Penyampaian Pendapat Halal Brand Forum 2026
Penyampaian Pendapat Halal Brand Forum 2026

Dari Insight Riset ke Aksi Strategis Ekosistem Halal

Sebagai lembaga riset, IHATEC Marketing Research meyakini bahwa data harus berujung pada keputusan strategis, bukan berhenti sebagai laporan. Oleh karena itu, forum ini menghadirkan perspektif regulator, praktisi, serta para pengambil keputusan yang terlibat langsung dalam pengembangan ekosistem halal.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa Top Halal Award 2026 akan kembali hadir pada bulan September mendatang. Pada tahun ini, jumlah responden riset meningkat dari 1.800 menjadi 2.100 responden yang tersebar di enam kota besar di Indonesia, sehingga insight yang menghasilkan output menjadi semakin kuat dan representatif.

“Pada 20 Mei, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Insya Allah kami akan meluncurkan buku Authentic Halal Brand. Peluncuran ini berarti sebagai ajakan untuk menjadikan kebangkitan halal tidak hanya sebagai peluang pasar, tetapi juga sebagai gerakan berbasis nilai”, ungkapnya

IHATEC Marketing Research juga telah merilis Halal Review, sebuah portal yang tersedia di halalreview.co.id, sebagai sumber wawasan mengenai perkembangan ekosistem halal secara nasional dan global,” tutupnya.

Keynote Speech Session Halal Brand Forum 2026

Dr. H. Muhammad Aqil Irham - Sekretaris Utama BPJPH Halal Brand Forum 2026
Dr. H. Muhammad Aqil Irham – Sekretaris Utama BPJPH Halal Brand Forum 2026

 

Acara berlanjut dengan keynote speech dari Muhammad Aqil Irham, Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Menegaskan bahwa halal tidak hanya berfungsi sebagai pemenuhan standar, tetapi sebagai pembeda dan nilai tambah untuk meningkatkan daya saing produk. “Meskipun secara normatif “halal” banyak orang meyakini mampu memperkuat posisi brand pasar, pembuktian dampaknya perlu support oleh riset yang terukur. Pelaku usaha perlu memastikan bahwa sertifikasi halal benar-benar memberikan kontribusi nyata terhadap performa bisnis, termasuk peningkatan penjualan,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Muhammad Aqil Irham menekankan bahwa sertifikasi halal memang menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Namun demikian, di tengah persaingan yang semakin dinamis, pelaku usaha juga perlu menghadirkan keunikan produk agar dapat tetap relevan dan unggul di pasar.

Sejalan dengan itu, pola konsumsi masyarakat juga menunjukkan dominasi sektor tertentu dalam industri halal. Sektor makanan dan minuman masih menjadi kontributor utama dalam belanja produk halal di Indonesia, dengan porsi mencapai sekitar 79,5 persen dari total pengeluaran.

Dari Standar Kepatuhan ke Keunggulan Kompetitif

“Kondisi ini mencerminkan bahwa kebutuhan dasar tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan industri halal, sekaligus membuka peluang yang lebih luas dalam skala global. Dengan populasi Muslim dunia yang mencapai 2,5 miliar jiwa, industri halal memiliki potensi besar untuk terus berkembang” Tegas Aqil

Di sisi lain, potensi Indonesia tetap signifikan. Sebanyak 15 perusahaan Indonesia telah masuk dalam jajaran Top 30 perusahaan halal di negara OKI. Meski demikian, perusahaan besar masih mendominasi kontribusi tersebut, sementara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum sepenuhnya memanfaatkan peluang pasar halal global.

Sertifikasi halal di Indonesia kini telah menjadi standar dasar dalam membangun kepercayaan pasar, bukan lagi sekadar keunggulan tambahan. Tantangan ke depan tidak hanya terletak pada perolehan sertifikasi, tetapi juga pada bagaimana pelaku usaha mampu mengoptimalkan nilai tambahnya terhadap kinerja bisnis. Hingga saat ini, hampir 12 juta produk telah bersertifikat halal di Indonesia, mencerminkan perkembangan ekosistem halal nasional yang semakin luas dan terstruktur. Namun demikian, jumlah tersebut masih relatif kecil daripada dengan total pelaku usaha yang ada di Indonesia.

Jika meninjau lebih spesifik pada sektor penyedia akomodasi serta makanan dan minuman, dari sekitar 6,11 juta pelaku usaha, baru sekitar 1,57 juta yang telah memiliki sertifikat halal. Artinya, masih terdapat sekitar 4,54 juta pelaku usaha yang belum tersertifikasi halal, sehingga menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan dan penguatan ekosistem halal di Indonesia masih terbuka sangat besar.

Untuk menjawab tantangan tersebut, BPJPH terus mendorong penguatan ekosistem halal nasional. Salah satunya melalui perluasan infrastruktur halal, termasuk peningkatan jumlah Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan auditor halal di berbagai daerah, sehingga akses sertifikasi halal dapat semakin luas dan merata. Melalui penguatan ekosistem, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia mengharapkan dapat meningkatkan perannya sebagai pemain utama dalam industri halal global.

Sharing Insights Session Halal Brand Forum 2026

Sharing Insights Session Halal Brand Forum 2026
Sharing Insights Session

 

Speaker:

Afdhal Aliasar – Founder Minang Kakao dan Senior Partner DinarStandard

Melanjutkan sesi dengan sharing session oleh Afdhal Aliasar, Founder Minang Kakao, yang menyoroti pentingnya membangun daya saing global berbasis potensi lokal. Ia menilai posisi Indonesia dalam industri halal global masih menghadapi tantangan, bukan semata karena kurangnya upaya, melainkan karena negara lain bergerak lebih cepat dalam mengembangkan ekosistemnya.

Ia juga membagikan perjalanan transformasinya, dari profesional di sektor perbankan dengan latar belakang engineering menjadi petani kakao. Ia mengambil keputusan tersebut sebagai langkah strategis untuk membangun nilai dari hulu, sekaligus menciptakan dampak bagi masyarakat melalui kolaborasi dengan petani lokal.

Dalam paparannya, Afdhal menyoroti persoalan mendasar pada pengelolaan sumber daya yang belum optimal. Banyak potensi kakao di Indonesia tahap penyelolaannya belum tergolong baik, baik dari sisi perawatan, pemeliharaan, maupun pascapanen. “Di salah satu kampung di Sumatera Barat, hasil panen yang benar-benar bagus bahkan tidak lebih dari 5 persen. Ini bukan karena tidak ada potensi, tetapi karena salah urus atau bahkan tidak terurus,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan bahwa potensi besar belum dengan pengelolaan yang memadai. Ia menekankan bahwa perbaikan tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi perlu awalan dari perubahan pola pikir pelaku usaha dan petani, termasuk melalui edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan agar praktik budidaya dan pascapanen dapat meningkat.

Sebagai respons, Minang Kakao membangun pendekatan terintegrasi dari hulu hingga hilir, memastikan kualitas bahan baku melalui pengelolaan langsung dan kolaborasi dengan petani, sekaligus melakukan hilirisasi produk. “Hampir semua pemain cokelat bergantung pada bahan baku global yang tidak stabil. Kami memastikan dari hulu sampai hilir kami kelola sendiri, sehingga tidak lagi bergantung pada pasokan yang tidak pasti.” Pendekatan ini memperkuat diri melalui prinsip *think global, act local* dan terbukti mendorong daya saing, tercermin dari berbagai pengakuan internasional, termasuk pada ajang AVPA Paris 2021, sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan brand tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga pada ekosistem yang mereka bangun bersama masyarakat.

Speaker:

Fachruddin Putra – Research Expert, IHATEC Marketing Research

Dalam sesi berikutnya, Fachruddin Putra mengangkat tema perubahan perilaku konsumen Muslim dan implikasinya terhadap strategi brand. Ia menyampaikan bahwa dalam lima tahun terakhir, nilai konsumsi produk halal di Indonesia mencapai sekitar USD 282 miliar, dengan pertumbuhan sekitar 53 persen yang didorong oleh penguatan regulasi melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) serta meningkatnya kesadaran halal sebagai bagian dari gaya hidup.

Ia menegaskan bahwa pasar halal kini semakin terfragmentasi, dengan karakter konsumen yang beragam dari yang sangat prinsipil hingga pragmatis. Sehingga brand perlu lebih presisi dalam menentukan positioning. Halal pun telah berkembang dari sekadar aspek religius menjadi bagian dari identitas dan lifestyle modern. Mencakup berbagai sektor mulai dari F&B, kosmetik, hingga pariwisata. Perubahan ini turut dipengaruhi oleh peran media sosial, meningkatnya value-driven consumption, serta munculnya tren hybrid lifestyle yang menggabungkan nilai Islam dan budaya global.

Di sisi lain, terjadi pergeseran fundamental dalam peran halal di pasar. “Halal saat ini bukan lagi unique selling proposition, melainkan sudah menjadi baseline yang harus dipenuhi oleh setiap brand.” Dengan demikian, brand tidak lagi cukup mengandalkan sertifikasi halal. Tetapi perlu menghadirkan diferensiasi melalui kualitas, relevansi gaya hidup, serta kemampuan membangun koneksi yang lebih kuat dengan konsumen.

Sesi Talkshow Halal Brand Forum 2026

Sesi Talkshow
Sesi Talkshow

 

Diskusi panel Halal Brand Forum 2026 yang dimoderatori oleh Anang Ghozali, Head of Research IHATEC Marketing Research, menghadirkan Sally Rachmatika dari Kopi Kenangan dan Ria Puji Restu dari Oriflame Indonesia. Diskusi menegaskan bahwa mayoritas produk di sektor F&B dan kosmetik telah bersertifikat halal. Namun halal kini tidak lagi cukup sebagai bentuk kepatuhan, melainkan harus diperkuat dengan strategi brand untuk menciptakan diferensiasi.

Sally Rachmatika memaparkan, Kopi Kenangan berkembang pesat dengan lebih dari 1.200 gerai di Indonesia, sekitar 200 gerai di luar negeri. Ia menekankan bahwa halal menjadi bagian integral dari operasional, mencakup seluruh rantai proses hingga komunikasi brand. “Halal bagi kami bukan hanya compliance, tetapi menjadi bagian dari value perusahaan,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa label halal, termasuk Top Halal Award, berperan penting dalam membangun kepercayaan konsumen. Bahkan dalam materi promosi hingga rekrutmen turut menggunakannya.

Dalam ekspansi global, Kopi Kenangan menghadapi tantangan kesiapan ekosistem halal di berbagai negara, seperti keterbatasan SDM yang memahami standar halal. Namun demikian, positioning halal justru menjadi daya tarik tersendiri di pasar internasional, menunjukkan bahwa nilai halal memiliki relevansi global.

Sementara itu, Ria Puji Restu menjelaskan bahwa Oriflame merupakan perusahaan global asal Swedia. Perusahaan ini telah mengimplementasikan prinsip halal secara menyeluruh dalam bisnisnya. Seluruh produknya telah tersertifikasi halal sejak 2020. Model bisnisnya juga didukung sertifikasi syariah. Ia menegaskan bahwa halal mencerminkan komitmen terhadap kualitas, transparansi, dan kepercayaan konsumen. Hal ini mencakup jaminan bahwa seluruh bahan baku memenuhi standar halal. Bahan baku tersebut meliputi sumber lokal maupun impor.

Diferensiasi Brand, Lebih dari Sekadar Label Halal

Menutup diskusi, kedua pembicara sepakat bahwa diferensiasi tidak lagi terletak pada label halal semata. Melainkan pada konsistensi implementasi, kecepatan adaptasi, serta kemampuan brand membangun koneksi dengan konsumen. Diskusi ini sekaligus menegaskan bahwa ekosistem halal Indonesia terus berkembang. Namun tetap membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Selain memperkuat hubungan antar undangan, acara ini menjadi momentum memperkenalkan Top Halal Index 2026, survei tahunan yang memasuki tahun kelima. IHATEC Marketing Research mengapresiasi brand-

brand yang telah mengoptimalkan predikat Top Halal Award dalam berbagai media promosi, mulai dari media sosial, website, hingga event pameran.

IHATEC Marketing Research menyampaikan terima kasih atas partisipasi seluruh pihak dalam acara ini. Harapan dari kolaborasi ini adalah kekuatan untuk mendorong pertumbuhan industri halal yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Sebagai mitra strategis dalam market research Indonesia, IHATEC Marketing Research siap mendampingi brand meraih kesuksesan di pasar halal masa depan.

M. Risal A.

Sales & Marketing Manager

M: 087874489832

Email : risal@ihatec-mr.com www.ihatec-mr.com

Our Clients

Our Clients